Kamis, 24 November 2011

UNTITLED #2

Seperti biasa, sepulang sekolah aku langsung pulang. Berjalan dijalan yg sama. Bertemu dgn orang yg sama. Tempat yg sama. Membosankan.

Ketika hampir sampai dirumah aku sudah memikirkan beberapa rencana. Karena tak ada tugas dan kak Nita gak datang karena ada kuliah, aku berencana untuk tidur. Pasti akan menyenangkan. Sudah lama aku gak merasakan tidur siang.

Sampai di rumah, aku gak melihat Buddy. Gak biasanya. Mungkin dia sedang ada pertemuan kucing sedunia. Tapi apa ada pertemuan kucing sedunia ?. Daripada penasaran, mending langsung tanya ke orangnya aja.

“Buddy, Buddy, Buddy,where r u ?”, (lho, koq jadi kayak lagu Scooby Doo). Mana ya tuh kucing, koq gak ketemu juga. Tunggu dulu, aku baru teringat cemilannya kak Nita. Jangan-jangan…



Bener aja…



Kucing berwarna putih dilapisi warna kuning itu sedang menikmati cemilan yg di kasih kak Nita. Mana gak disisa’in lagi.

“Wah parah loe, cemilan gue loe embat. Mana gak permisi lagi ma gue. Untung loe kucing gue, kalo’ gak gue laporin ke polisi dgn tuduhan mencuri makanan manusia dgn sengaja”.

Bukannya merasa bersalah, malah masang muka sok cute (mank kucing kalo mukanya cute gimana ya ?). Ya udahlah, daripada pusing mending ikutin rencana ku tadi. ’TIDUR’





* * *

Gubraaaak…..

“Apa’an tu?”.

Ternyata si Buddy ngejatuhin buku- buku di rak. Kurang asem ni anak, tau aja cara buat orang kesel setengah mati. Akhirnya aku tterpaksa bangun dari tidur ku. Setelah berhasil mengumpulkan nyawa ku yg masih berserekan tak tentu arah, aku menyusun buku yg di rubuhkan si Buddy tadi. Bener-bener tu anak, udah ngembat cemilan orang tanpa izin secara lisan ataupun tertulis, sekarang ngasih kerjaan lagi. Mana tadi lagi asyik-asyik mimpi . . . .



Mimpi . . . .



Mimpi apa ya . . . .



Yah, lupa . . . . (~ ___~")a



Ngomong-ngomong koq ni buku gak ada yg ku kenal semua. Apa aku yg sombong ya jadi gak pada kenal ni buku?. Bodo’ ah. Ngapain ku pikirin juga ya.

Eh, ada album fotonya juga. Di covernya tertulis ‘1985-1995’. Disitu juga tertulis nama ayah ku, ‘ Dani album’s ’. Album apa ni ya?. Koq gue gak pernah liat?

Setelah membereskan pekrjaan yg di kasih si buddy tadi, aku ambil album tadi, trus naik ke tempat tidur. Ternyata isinya foto-foto Ayah ku dulu. Ternyata beliau memang mirip dengan ku. O’om ku pernah bilang, kalo aku tu punya tampang mirip Ayah ku, tapi sifatnya mirip Ibu ku. Awalnya sih aku gak percaya, tapi ternyata emang bener. Di album juga ada foto Ayah dan abangnya a.k.a O’om ku sedang berpose di belakang rumah Nenek ku. Ternyata Nenek tidak pernah merubah rumahnya sama sekali. Aku jadi kangen dengan beliau. Di album tersebut juga tampak foto almarhum Kakek ku dengan Nenek. Kakek ku meninngal karena serangan jantung. Itu sih kata O’om ku.

Selanjutyna ada foto-foto Ayah ku bersama dengan teman-teman SMAnya, terlihat dari seragamnya. Dan ada juga foto sewaktu beliau kuliah. Dan disitu terlihat Ayah ku berfoto dengan seorang wanita. Mungkin dia Ibu ku ya. Soalnya beliau terlihat sering bersama Ayah ku. Ntah kenapa aku tidak bisa wajah mereka. Beliau berdua meninggal karena bus yg membawa mereka ke acara reuni SMA Ayah ku kecelakaan. Pada saat itu hanya 3 orang yg selamat, termasuk aku. Sejak saat itu aku di rawat oleh O’om Hadi, abang dari ayahku.

“Kikuk…Kikuk…Kikuk….Kikuk…”, si Jago (karena bentuk jam dinding di kamar ku mirip ayam jantan, jadi panggilannya si Jago) berkoak-koak menyadarkan lamunan ku

“Cepet amat udah jam 4”.

Biasanya kalo’ sudah jam 4, aku mulai sibuk nyapu rumah “sekedarnya”, terus mandi. Setelah itu paling ke komputer buat maen game online. Biasanya aku maen Point Blank.

Setelah online, kulihat banyak teman-teman sekolah ku ada yg lagi maen juga. Aku dan teman-teman sekolah gabung dalam clan (semacam grup gitu lho) yg anggotanya teman-teman sekolah ku semua. Jadi aku bisa tahu siapa-siapa aja teman ku yg online. Ku lihat ada Erik, Candra, Andre, dan anak – anak dari kelas lainnya.

But wait a second, kok ini ada anggota baru yg langsung jadi staff (semacam bawahan dari pemimpin clan, dan dalam satu clan itu terdiri dari lima orang staff). Dari nick namenya sih, kayak ku kenal. Langsung aja aku ajak chat.

dark_assassins (nick ku) : hi, ank bru y?

hikaru_girl (nicknya dia) : ea. q bru join kmrin

dark_assassins : tapi kq bs lngsng jd staff?

dark_assassins : nyogok y? msh kcil kq udh bljr korupsi

hikaru_girl : abng q yg pny clan

hikaru_girl : enk z, kmu kli kyk gt

dark_assassins : sory, cm bcnda. btw, kmu hiruka ank jpang tu y?

hikaru_girl : bkan, q hikaru. kmu slah orng kli

dark_assassins : owh, mav. trs kq bs msuk clan ni, ni kn clan khsus bwt ank harapan bangsa (nama sekolah ku) doank.

Tak ada jawaban….

Waktu ku lihat di list, ternyata dia lagi maen dalam suatu room (tempat sekelompok orang bermain game tersebut). Karena aku penasaran, aku ikuti dia ke dalam room tersebut.

“Gila ini room, pangkatnya udah tinggi-tinggi semua” kata ku sambil masang muka mirip tikus yg lagi ngelihat pacarnya di rebut kucing.

Tapi ini cewek kok berani maen dengan mereka semua ya?, padahal pangkat (level seseorang dalam game ini) dia paling rendah. Mana dia satu timnya cuma ada tiga orang, sedangkan lawannya delapan. Apa dia memang jago ya?. Daripada penasaran, gabung aja lah.

Aku ikut ke dalam timnya, yaitu tim merah. Setelah berhasil bergabung, aku terkejut. “Baru dua menit, masa’ skornya udah tiga puluh dua lawan empat, trus dua puluh delapan angkanya dia yg bikin. Ni cewek kesurupan apa ya, napsu amat ngebunuh orang.” (skor di hitung setiap kali berhasil membunuh satu orang).

Gak mau kalah, aku juga mulai menyerang tim lawan. Tapi memang modal nekat gak cukup buat maenin ini game. Aku cuma berhasil di bunuh oleh lawan. Setelah game selesai, tim kami menang dengan skor Sembilan puluh tiga lawan lima puluh tiga, dan delapan puluh persen skornya di buat cewek yg mungkin maniak itu (gimana nggak di bilang maniak dengan skill kemampuan membunuh kayak gitu). Sedangkan aku hanya bisa menembak tiga orang, dan dua puluh tiga kali di tembak musuh (– __–) .

Lalu Hikaru chating kembali kepada ku

hikaru_girl : kmu lmyan jg y… lol

dark_assassins : ya gt deh

dark_assassins : tp ttep z ni clan khsus utk ank harapan bangsa doank

Lalu dia offline gitu aja.

“Kurang ajar ni anak. Gak ada permisi dia maen kabur aja.”

Dan akhirnya aku juga ikut-ikutan offline.

“Siapa ya cewek maniak tadi?”

Setelah termenung sebentar (bukan karena mikirin cewek tadi, tapi karena otak ku kebetulan lagi konslet, jadi perlu di diam kan bentar) aku kembali ke komputer ku

“Ah, daripada mikirin tu anak, mending buka eF - Be aja”

Lalu aku mulai menggerakkan mouse ku yg berbentuk ikan paus berwarna hitam - putih kepunyaan Kak Vina dulu ke Mozilla dan mengkliknya, lalu memasukkan kata ‘FB’ ke kolom pencarian, lalu ku tekan enter. (catatan : sebenarnya ini komputer satu set lengkap punya Kak Vina semua dulu, tapi tokoh di dalam cerita ini aja yg nganggap kalo’ itu komputer punya dia).

Setelah berhasil log-in, aku mendapati sebuah permintaan pertemanan. Dan orang tersebut adalah…

Jreng… Jreng…



Si Cewek Maniak. . . . .

Aku tahu itu dia dari namanya yg tertulis di situ, ‘Hikaru Alexuno’

“Apa-apaan ni cewek. Kenalnya baru tadi, dia udah maen nge-add aja. Tau darimana dia e-mail ku?”

Setelah ku perhatikan sejenak,

“Pantes dia tahu”. Ternyata dia sudah berteman dengan Tama, Darius (adalah teman sekelas ku juga), dan Hikaru.

Tapi tunggu dulu, ada yang aneh. Ntah mata ku yg udah butuh di reparasi, atau ini komputer lagi rusak ya. Wajah si cewek maniak ini dengan wajah si Hiruka mirip. Eh bukan, tapi sama, cuma beda rambut doank. Kalo Hiruka rambutnya agak pendek, sedangkan si maniak agak panjang dan di ikat.

“Bodo’ ah. Daripada ntar aku jadi gila gara-gara mikiran ni anak, mending terima aja lah” langsung ku klik ke kolom konfirmasi.

UNTITLED #1

Aku telah sampai di sekolah.Sambil menuju ke ruang kelas,ku lihat banyak orang murat-marit (kalo gak tau cari di kamus) gak jelas.Gak kerasa udah nyampe di kelas.Disana sudah ada yang menyambut ku dgn heboh.
          “Woy, David, my best friend, akhirnya datang juga” sambut Tama.
          “Gak biasa-biasanya kamu kayak gini. Da pa, mo minjem duit lagi”
          “Bukan minjem duit, tapi minjem tugas, bolehkan ?” pintanya sambil masang wajah sedih yang bikin mukanya tambah ancur.
Aku baru ingat kalo ni hari ini da tugas fisika. Tapi untung dah ku siapin dua hari yang lalu. Memang tugasnya cuma satu soal, tapi susahnya sampe kepala mau pecah. Untung ada Kak Nita yang mau bantuin aku. Walaupun cuma tetangga tapi dia nganggap aku tuh Adiknya. Aku sama sekali gak peduli dengan masalah itu. Wong aku juga anak tunggal, jadi aku nganggap dia itu sebagai Kakakku. Tapi kabarnya dia itu dulu punya Adik laki-laki yang mirip sama aku, meninggal akibat kanker otak. Jadi karena itu dia nganggap aku sebagai Adiknya.
          Akhirnya ku berikan tugas itu padanya. Lagi pula kan aku juga minta bantuan (lebih tepat nya minta dikerja’in) ma Kak Nita.
          “Ni ku kasih”
          Dalam waktu 0,0000001 detik, tugasku langsung di rebutnya. Lalu dengan sigapnya, di copynya tugas ku. Sambil meletakkan tas, ku lihat cewek (yg agak aneh) yang duduk di ujung bangku paling belakang. Namanya Hiruka. Dia anak berdarah jepang. Tak heran jika dia punya mata sipit dan berkulit putih. Ntah kenapa setiap ku lihat dia, ada semacam aura aneh yang menyelimuti tubuhnya. Seperti ada yang mengatakan pada dirinya “Hiruka, anak itu memperhatikan kita”, padahal tak ada siapa-siapa di dekatnya, apalagi dia duduk sendiri disitu.
          “SELESAI . . . . . !!!” teriakan Tama membuat ku kaget.
          “Woy stress, lupa minum obat tadi pagi ya ?” aku sedikit berteriak ku.
          “Sorry, aku cuma semangat aja karena tugas ku sudah selesai. Neh bukumu”
TEEEEEEEEET,TEEEEEEEEEEET,TEEEEEEEEEEEET.
Bel telah datang ke kelas ku, beserta seorang guru yang umurnya sekitar 30 tahun dan terkenal dengan nama ”Pak Pus”. Banyak murid yang bercerita bahwa dia mendapatkan nama itu karena dia seorang perokok. Guru itu memiliki rambut putih seperti orang berumur 90 tahun. Orangnya tak bisa dimengerti. Kadang humoris, lalu tiba-tiba berubah menjadi serius. Kalau dipikir-pikir mirip dengan Kakashi Hatake, salah satu tokoh karakter dari film anime Naruto.
“Baiklah anak-anak,sebelum kita melanjutkan pelajaran dua hari yang lalu, tolong kumpulkan tugas kalian. Bapak kali ini berharap tidak ada yang lupa mengerjakannya. Jika ada, orang itu akan bapak suruh membersihkan halaman sekolah kita. Hitung-hitung membantu pekerjaan orang lain”
Memang guru yang aneh.
Alhasil, guru itu mendaptkan 3 ekor mangsa. Mereka disuruh membersihkan seluruh halaman sekolah dari sampah.


* * *


“TEEEEEEET,TEEEEEEEEEEEEEET,TEEEEEEEEEEET. . . . . .”
Akhirnya bel pulang berbunyi,
Beberapa anak langsung berlarian pulang seperti serigala yang hendak menyerang mangsanya. Beberapa orang lainnya berjalan pulang bersama teman-temannya sambil menceritakan rencana setelah pulang sekolah. Aku dan beberapa temanku yang lain bertahan di kelas untuk melakukan salah satu tugas para murid, yaitu membersihkan kelas. karena aku dapat bagian menyapu jadi aku harus menunggu temanku yang lain menyelesaikan tugasnya yang mengangkat meja.
“Dave, kami semua duluan ya. Soalnya mau mengerjakan tugas dari Buk Tutik di rumahnya Erik. Gak pa-pa kan ?” kata Chris yang baru saja menyelesaikan tugasnya.
“Gak pa-pa koq, kalian duluan saja. Lagipula kan tugas ku sebentar lagi selesai” kataku sambil menyapu. Sebenarnya aku tidak ingin ditinggal oleh mereka. Soalnya jika aku di tinggal, berarti aku cuma berdua bersama Hiruka. Masalahnya yaitu, aku dan dia belum pernah berbicara secara langsung. Mana si Tama udah kabur duluan karena udah kebelet gara – gara waktu makan bakso tadi dia naruh cabe kebanyakan.
“Ya udah, kalau begitu kami duluan ya”
Wah bagaimana nih ! Apa aku pura-pura tidak tahu saja. Ah, masa bodo’. Yang penting aku harus menyelesaikan tugasku secepatnya.
“Hey, jika kau berdiam diri saja disitu, tugasnya tidak akan selesai” sebuah sapa yg tak ku harap kan.
D I A  M E N Y A P A K U. . .
“Hey, apa kau tidak mendengarkan ku. Kau ini melamun ?”
Perlahan aku membalik kan badan ku, “sorry. Aku tadi melamun. Oh ya, namaku David, bukannya Hey”
“Maaf kalau kau tersinggung jika ku panggil Hey. Tapi aku hanya ingin memberitahukan kalau pekerjaanku sudah selesai. Jadi sekarang aku ingin pulang”
“Silahkan jika ingin mau pulang duluan”, sahutku.
“Ya sudah, aku duluan ya”, katanya sambil berjalan pulang.
Mengapa nada bicaranya seperti sudah lama mengenalku. Padahal bicara dengan ku saja baru kali ini. Walaupun dia agak sedikit galak, tapi dia ramah juga karena dia mau menyapa ku sebelum pulang. Cewek yang aneh.
Kenapa harus memikirkan dia, seharusnya kan menyelesaikan tugas menyapuku.


* * *


Selesai ku lakukan tugas (yg sebenarnya malas ku kerjakan), aku langsung angkat kaki dari kelas. Kebetulan rumah ku dgn sekolah hanya berjarak 2 kilometer, jadi aku biasanya pulang berjalan kaki. Sambil berjalan pulang,aku biasa mendengarkan pake head set hp, biar gak bosan. Tak lupa untuk menyetel lagunya M C R.
Sampai di rumah, aku langsung di sambut hangat kucing kesayangan ku.Kucing yg kutemukan sewaktu aku diajak tinggal bersama O’om ku disini.
“Hai Buddy, udah lama nunggu ya ?”, tanya ku. Walaupun aku nggak berharap dia bisa ngejawab pertanyaan ku, aku pura-pura berbicara dgn dia, karena biasanya di rumah aku hanya sendirian. O’om biasanya sedang dikantor. Dia bekerja sebagai manajer  utama disebuah perusahaan penerbit buku ternama. Biasanya pulang jam 8 malam. Sedangkan anaknya, Kak Vina, bekerja sebagai reporter di sebuah stasiun televisi nasional. Jadi dia jarang sekali pulang.
Karena itu, jika aku membutuhkan apa-apa, aku harus mencoba mandiri. Tapi jika kepepet, aku terpaksa menelepon O’om.
Selesai makan dan mencuci piring, aku langsung masuk ke kamar. Di kamar, aku langsung menghidupkan mp3 player. Sekali lagi dgn lagu M C R, dan kali ini ku selipkan lagu-lagunya Simple Plan serta Muse. Ku coba untuk membuka buku pelajaran sekolah. Kulihat pekerjaan rumah yang menumpuk bagaikan gunung Himalaya. Tapi aku harus menjadi pendaki, eh… maksudnya pelajar yang baik dengan mengerjakan pekerjaan rumah, bukan di sekolah (kecuali kepepet).
“Hai Dave,kakak boleh masuk gak, neh kakak bawa sesuatu”
Dari jendela kulihat kak Nita membawa sekaleng cemilan dan kaset dvd. Sudah menjadi kebiasaan jam segini kak Nita datang. Biasanya dia datang membawa cemilan dan kaset dvd, karena aku suka nonton. Apalagi kalau film action. Kadang pun kak Nita mengajak aku nonton di bioskop yang dekat dgn tempat dia kuliah. Dan tentunya dia yg bayarin.
“Tunggu ya Kak. David masih diatas”. Aku berteriak dari jendela kamar ku yg berada di lantai dua.
Aku langsung menyusun buku yg masih berserak. Setelah itu aku berlari menuju lantai satu. Lalu membukakan pintu pagar untuk Kak Nita.
“Lagi ngapain Dave tadi ?” tanya Kak Nita.
“Lagi belajar, tadi di sekolah dpt bonus lagi. Jadi David kerjain semampunya” Jawabku sedikit mengeluh.
“Emang dpt tugas apa. Mau Kakak bantuin lagi ?” Tanya Kak Nita menawarkan bantuan.
“Nggak usah, David sendiri bisa kok. Lagi pula tugasnya gak susah. Cuma agak banyak.
“Tapi kakak nggak ganggu kan.”
“Nggak pa-pa kok. By the way, kakak bawa film apa hari ini?”. Aku yg sedikit penasaran.
“Filmnya Nicholas Cage, Gone In Sixty Second” kata kak Nita sambil menunjukkan cover kasetnya kepada ku.
“Masa sih kak, padahal Dave cari di tempat rental-rental kaset gak ada. Emang kakak dpt dimana kasetnya? Nyolong ya?” Tanya ku nggak percaya.
“Siapa bilang kakak nyolong?”
“Barusan kan David yg bilang. Masa’ kakak nggak denger.”
“Dasar anak yg gak tau berterimakasih. Dah syukur kakak mau bawa’in kamu film bagus. Bukannya terimakasih, malah muji. Ni kaset kakak dapat dari teman kakak, kebetulan dia punya.” Kata kak Nita sedikit jengkel.
“Sorry deh kalo gitu, Dave kan cuma bercanda”
“Kakak maafin deh. Tapi, kali Kakak gak bisa nemenin kamu nonton. Soalnya hari ini kakak mau ketemuan sama teman Kakak. Gak pa-pa kan?” kata kak Nita sambil meletakkan cemilan yg di bawanya tadi.
“Gak pa-pa deh Kak. Asalkan film sama cemilannya kakak tinggal, kakak pergi keujung duniapun pasti David rela’in” kataku sambil mencoba memeluk kaset dan cemilan yg kak Nita bawa. Siapa tau mau dibawa lagi karena udah ngomong kayak gitu.
“Dasar, ya udah Kakak mau pergi dulu. Hati-hati ya dirumah. Soalnya Kakak denger dari orang yg pernah tinggal disini, rumah ini banyak hantunya”, katanya sambil masang wajah ketakutan.
“Aku dah tau koq”, jawabku sedikit sombong.
“Tau darimana ?”, sedikit penasaran.
“Kan sekarang Dave lagi ngomong sama hantunya”, kataku sambil berlari.
“Hei… jangan nyesel ya kalo nanti kakak tangkap”, emosi Kak Nita.
“Pastinya nggak sekarang. Kan Kakak mau ketemu sama temen Kakak”.
“Oh iya, gara-gara kamu hampir Kakak lupa. Ya udah, hati-hati ya dirumah” kata Kak Nita sambil pergi keluar (masa’ kedalam, emanknya mau lewat pintu kemana sajanya Doraemon).
Finally, sendiri lagi.

* * *