Aku telah sampai di sekolah.Sambil menuju ke ruang kelas,ku lihat banyak orang murat-marit (kalo gak tau cari di kamus) gak jelas.Gak kerasa udah nyampe di kelas.Disana sudah ada yang menyambut ku dgn heboh.
“Woy, David, my best friend, akhirnya datang juga” sambut Tama.
“Gak biasa-biasanya kamu kayak gini. Da pa, mo minjem duit lagi”
“Bukan minjem duit, tapi minjem tugas, bolehkan ?” pintanya sambil masang wajah sedih yang bikin mukanya tambah ancur.
Aku baru ingat kalo ni hari ini da tugas fisika. Tapi untung dah ku siapin dua hari yang lalu. Memang tugasnya cuma satu soal, tapi susahnya sampe kepala mau pecah. Untung ada Kak Nita yang mau bantuin aku. Walaupun cuma tetangga tapi dia nganggap aku tuh Adiknya. Aku sama sekali gak peduli dengan masalah itu. Wong aku juga anak tunggal, jadi aku nganggap dia itu sebagai Kakakku. Tapi kabarnya dia itu dulu punya Adik laki-laki yang mirip sama aku, meninggal akibat kanker otak. Jadi karena itu dia nganggap aku sebagai Adiknya.
Akhirnya ku berikan tugas itu padanya. Lagi pula kan aku juga minta bantuan (lebih tepat nya minta dikerja’in) ma Kak Nita.
“Ni ku kasih”
Dalam waktu 0,0000001 detik, tugasku langsung di rebutnya. Lalu dengan sigapnya, di copynya tugas ku. Sambil meletakkan tas, ku lihat cewek (yg agak aneh) yang duduk di ujung bangku paling belakang. Namanya Hiruka. Dia anak berdarah jepang. Tak heran jika dia punya mata sipit dan berkulit putih. Ntah kenapa setiap ku lihat dia, ada semacam aura aneh yang menyelimuti tubuhnya. Seperti ada yang mengatakan pada dirinya “Hiruka, anak itu memperhatikan kita”, padahal tak ada siapa-siapa di dekatnya, apalagi dia duduk sendiri disitu.
“SELESAI . . . . . !!!” teriakan Tama membuat ku kaget.
“Woy stress, lupa minum obat tadi pagi ya ?” aku sedikit berteriak ku.
“Sorry, aku cuma semangat aja karena tugas ku sudah selesai. Neh bukumu”
TEEEEEEEEET,TEEEEEEEEEEET,TEEEEEEEEEEEET.
Bel telah datang ke kelas ku, beserta seorang guru yang umurnya sekitar 30 tahun dan terkenal dengan nama ”Pak Pus”. Banyak murid yang bercerita bahwa dia mendapatkan nama itu karena dia seorang perokok. Guru itu memiliki rambut putih seperti orang berumur 90 tahun. Orangnya tak bisa dimengerti. Kadang humoris, lalu tiba-tiba berubah menjadi serius. Kalau dipikir-pikir mirip dengan Kakashi Hatake, salah satu tokoh karakter dari film anime Naruto.
“Baiklah anak-anak,sebelum kita melanjutkan pelajaran dua hari yang lalu, tolong kumpulkan tugas kalian. Bapak kali ini berharap tidak ada yang lupa mengerjakannya. Jika ada, orang itu akan bapak suruh membersihkan halaman sekolah kita. Hitung-hitung membantu pekerjaan orang lain”
Memang guru yang aneh.
Alhasil, guru itu mendaptkan 3 ekor mangsa. Mereka disuruh membersihkan seluruh halaman sekolah dari sampah.
* * *
“TEEEEEEET,TEEEEEEEEEEEEEET,TEEEEEEEEEEET. . . . . .”
Akhirnya bel pulang berbunyi,
Beberapa anak langsung berlarian pulang seperti serigala yang hendak menyerang mangsanya. Beberapa orang lainnya berjalan pulang bersama teman-temannya sambil menceritakan rencana setelah pulang sekolah. Aku dan beberapa temanku yang lain bertahan di kelas untuk melakukan salah satu tugas para murid, yaitu membersihkan kelas. karena aku dapat bagian menyapu jadi aku harus menunggu temanku yang lain menyelesaikan tugasnya yang mengangkat meja.
“Dave, kami semua duluan ya. Soalnya mau mengerjakan tugas dari Buk Tutik di rumahnya Erik. Gak pa-pa kan ?” kata Chris yang baru saja menyelesaikan tugasnya.
“Gak pa-pa koq, kalian duluan saja. Lagipula kan tugas ku sebentar lagi selesai” kataku sambil menyapu. Sebenarnya aku tidak ingin ditinggal oleh mereka. Soalnya jika aku di tinggal, berarti aku cuma berdua bersama Hiruka. Masalahnya yaitu, aku dan dia belum pernah berbicara secara langsung. Mana si Tama udah kabur duluan karena udah kebelet gara – gara waktu makan bakso tadi dia naruh cabe kebanyakan.
“Ya udah, kalau begitu kami duluan ya”
Wah bagaimana nih ! Apa aku pura-pura tidak tahu saja. Ah, masa bodo’. Yang penting aku harus menyelesaikan tugasku secepatnya.
“Hey, jika kau berdiam diri saja disitu, tugasnya tidak akan selesai” sebuah sapa yg tak ku harap kan.
D I A M E N Y A P A K U. . .
“Hey, apa kau tidak mendengarkan ku. Kau ini melamun ?”
Perlahan aku membalik kan badan ku, “sorry. Aku tadi melamun. Oh ya, namaku David, bukannya Hey”
“Maaf kalau kau tersinggung jika ku panggil Hey. Tapi aku hanya ingin memberitahukan kalau pekerjaanku sudah selesai. Jadi sekarang aku ingin pulang”
“Silahkan jika ingin mau pulang duluan”, sahutku.
“Ya sudah, aku duluan ya”, katanya sambil berjalan pulang.
Mengapa nada bicaranya seperti sudah lama mengenalku. Padahal bicara dengan ku saja baru kali ini. Walaupun dia agak sedikit galak, tapi dia ramah juga karena dia mau menyapa ku sebelum pulang. Cewek yang aneh.
Kenapa harus memikirkan dia, seharusnya kan menyelesaikan tugas menyapuku.
* * *
Selesai ku lakukan tugas (yg sebenarnya malas ku kerjakan), aku langsung angkat kaki dari kelas. Kebetulan rumah ku dgn sekolah hanya berjarak 2 kilometer, jadi aku biasanya pulang berjalan kaki. Sambil berjalan pulang,aku biasa mendengarkan pake head set hp, biar gak bosan. Tak lupa untuk menyetel lagunya M C R.
Sampai di rumah, aku langsung di sambut hangat kucing kesayangan ku.Kucing yg kutemukan sewaktu aku diajak tinggal bersama O’om ku disini.
“Hai Buddy, udah lama nunggu ya ?”, tanya ku. Walaupun aku nggak berharap dia bisa ngejawab pertanyaan ku, aku pura-pura berbicara dgn dia, karena biasanya di rumah aku hanya sendirian. O’om biasanya sedang dikantor. Dia bekerja sebagai manajer utama disebuah perusahaan penerbit buku ternama. Biasanya pulang jam 8 malam. Sedangkan anaknya, Kak Vina, bekerja sebagai reporter di sebuah stasiun televisi nasional. Jadi dia jarang sekali pulang.
Karena itu, jika aku membutuhkan apa-apa, aku harus mencoba mandiri. Tapi jika kepepet, aku terpaksa menelepon O’om.
Selesai makan dan mencuci piring, aku langsung masuk ke kamar. Di kamar, aku langsung menghidupkan mp3 player. Sekali lagi dgn lagu M C R, dan kali ini ku selipkan lagu-lagunya Simple Plan serta Muse. Ku coba untuk membuka buku pelajaran sekolah. Kulihat pekerjaan rumah yang menumpuk bagaikan gunung Himalaya. Tapi aku harus menjadi pendaki, eh… maksudnya pelajar yang baik dengan mengerjakan pekerjaan rumah, bukan di sekolah (kecuali kepepet).
“Hai Dave,kakak boleh masuk gak, neh kakak bawa sesuatu”
Dari jendela kulihat kak Nita membawa sekaleng cemilan dan kaset dvd. Sudah menjadi kebiasaan jam segini kak Nita datang. Biasanya dia datang membawa cemilan dan kaset dvd, karena aku suka nonton. Apalagi kalau film action. Kadang pun kak Nita mengajak aku nonton di bioskop yang dekat dgn tempat dia kuliah. Dan tentunya dia yg bayarin.
“Tunggu ya Kak. David masih diatas”. Aku berteriak dari jendela kamar ku yg berada di lantai dua.
Aku langsung menyusun buku yg masih berserak. Setelah itu aku berlari menuju lantai satu. Lalu membukakan pintu pagar untuk Kak Nita.
“Lagi ngapain Dave tadi ?” tanya Kak Nita.
“Lagi belajar, tadi di sekolah dpt bonus lagi. Jadi David kerjain semampunya” Jawabku sedikit mengeluh.
“Emang dpt tugas apa. Mau Kakak bantuin lagi ?” Tanya Kak Nita menawarkan bantuan.
“Nggak usah, David sendiri bisa kok. Lagi pula tugasnya gak susah. Cuma agak banyak.
“Tapi kakak nggak ganggu kan.”
“Nggak pa-pa kok. By the way, kakak bawa film apa hari ini?”. Aku yg sedikit penasaran.
“Filmnya Nicholas Cage, Gone In Sixty Second” kata kak Nita sambil menunjukkan cover kasetnya kepada ku.
“Masa sih kak, padahal Dave cari di tempat rental-rental kaset gak ada. Emang kakak dpt dimana kasetnya? Nyolong ya?” Tanya ku nggak percaya.
“Siapa bilang kakak nyolong?”
“Barusan kan David yg bilang. Masa’ kakak nggak denger.”
“Dasar anak yg gak tau berterimakasih. Dah syukur kakak mau bawa’in kamu film bagus. Bukannya terimakasih, malah muji. Ni kaset kakak dapat dari teman kakak, kebetulan dia punya.” Kata kak Nita sedikit jengkel.
“Sorry deh kalo gitu, Dave kan cuma bercanda”
“Kakak maafin deh. Tapi, kali Kakak gak bisa nemenin kamu nonton. Soalnya hari ini kakak mau ketemuan sama teman Kakak. Gak pa-pa kan?” kata kak Nita sambil meletakkan cemilan yg di bawanya tadi.
“Gak pa-pa deh Kak. Asalkan film sama cemilannya kakak tinggal, kakak pergi keujung duniapun pasti David rela’in” kataku sambil mencoba memeluk kaset dan cemilan yg kak Nita bawa. Siapa tau mau dibawa lagi karena udah ngomong kayak gitu.
“Dasar, ya udah Kakak mau pergi dulu. Hati-hati ya dirumah. Soalnya Kakak denger dari orang yg pernah tinggal disini, rumah ini banyak hantunya”, katanya sambil masang wajah ketakutan.
“Aku dah tau koq”, jawabku sedikit sombong.
“Tau darimana ?”, sedikit penasaran.
“Kan sekarang Dave lagi ngomong sama hantunya”, kataku sambil berlari.
“Hei… jangan nyesel ya kalo nanti kakak tangkap”, emosi Kak Nita.
“Pastinya nggak sekarang. Kan Kakak mau ketemu sama temen Kakak”.
“Oh iya, gara-gara kamu hampir Kakak lupa. Ya udah, hati-hati ya dirumah” kata Kak Nita sambil pergi keluar (masa’ kedalam, emanknya mau lewat pintu kemana sajanya Doraemon).
Finally, sendiri lagi.
* * *
panjang x ceritanyaaaa
BalasHapusyg untitled 2 itu sambungannya kah
emank panjang. aku kan gak bilang ini cerpen, tapi cerita ^^v
BalasHapus